Di Indonesia, sekitar 300 ribu pelajar mengalami gejala depresi, sebuah angka yang sangat mencengangkan. Hal ini menunjukkan bahwa masalah kesehatan mental di kalangan anak dan remaja menjadi perhatian yang serius untuk ditangani.
Angka ini lima kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok usia dewasa dan lansia, yang memperlihatkan adanya kesenjangan signifikan dalam kesehatan mental. Temuan ini berasal dari pemeriksaan kesehatan yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) sepanjang tahun 2025.
Dalam program ini, dari total 27 juta penduduk yang diperiksa, kelompok anak dan remaja menunjukkan angka gejala depresi dan kecemasan yang jauh lebih tinggi daripada orang dewasa. Menurut Kepala Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK), fenomena ini sangat mengkhawatirkan.
Data menunjukkan bahwa sebanyak 363.362 pelajar, atau sekitar 4,8 persen, mengalami gejala depresi. Sementara itu, 338.316 pelajar, atau 4,4 persen, mengalami gejala kecemasan. Hal ini menunjukkan bahwa masalah kesehatan mental di kalangan remaja semakin serius dan perlu perhatian lebih.
Berbeda dengan kondisi pada kelompok dewasa dan lansia, di mana gejala depresi dan kecemasan jauh lebih rendah. Hanya 174.579 orang dewasa yang menunjukkan gejala depresi, yang setara dengan 0,9 persen dari total populasi dewasa. Ini menunjukkan bahwa masalah kesehatan mental di kalangan pelajar lebih umum terjadi, dan ini menjadi tantangan besar bagi kita semua.
Menurut Asnawi Abdullah, beberapa faktor berkontribusi terhadap tingginya angka depresi pada pelajar. Salah satu penyebab utama adalah tuntutan prestasi yang semakin meningkat. Baik dari orang tua maupun lingkungan sekitar, tekanan terus bertambah, menyebabkan pelajar merasa tertekan dan cemas.
Penyebab Utama Masalah Kesehatan Mental di Kalangan Pelajar
Tekanan akademik menjadi salah satu faktor dominan yang mempengaruhi kesejahteraan mental pelajar. Persaingan di sekolah dan harapan yang tinggi dari orang tua sering kali menjadi beban berat yang harus mereka hadapi. Hal ini dapat menyebabkan stres yang berkelanjutan dan berpotensi mengarah pada depresi.
Lingkungan sosial juga berperan penting dalam kesehatan mental remaja. Harapan yang tidak realistis dari teman
sepergaulan dapat menciptakan perasaan tidak puas pada diri sendiri. Remaja cenderung merasa harus memenuhi standar yang ditetapkan orang lain, sehingga meningkatkan tingkat kecemasan mereka.
Selain itu, dukungan sosial yang kurang dari orang tua atau teman-teman bisa menjadi faktor risiko. Ketika pelajar merasa sendirian dalam menghadapi masalah mereka, efeknya bisa berdampak serius pada kesehatan mental mereka. Penting bagi lingkungan sosial untuk memberikan dukungan yang memadai agar mereka merasa lebih aman.
Peran Guru dan Sekolah dalam Deteksi Awal Masalah Kesehatan Mental
Pendidikan bukan hanya soal akademis, tetapi juga mencakup kesehatan mental siswa. Guru dan tenaga pendidik memiliki peran penting dalam mengenali tanda-tanda awal gangguan kesehatan mental pada anak. Dalam banyak kasus, sekolah adalah tempat pertama yang bisa memberikan perhatian pada perubahan perilaku dan emosi siswa.
Agar bisa mendeteksi masalah sejak dini, para guru perlu dilengkapi dengan pengetahuan tentang gejala dan tanda-tanda depresi atau kecemasan. Dengan pelatihan yang tepat, mereka bisa membawa perubahan yang signifikan dalam hidup siswa.
Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) juga diselenggarakan untuk membantu mendeteksi masalah kesehatan mental di kalangan pelajar. Melalui program ini, diharapkan penanganan bisa dilakukan sebelum kondisi memburuk, sehingga pelajar dapat kembali berfungsi dengan baik di sekolah dan kehidupan sehari-hari.
Tindakan Preventif dan Penanganan Masalah Kesehatan Mental
Dalam rangka mengurangi prevalensi depresi dan kecemasan di kalangan pelajar, tindakan preventif sangat diperlukan. Edukasi mengenai kesehatan mental sebaiknya dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah, sehingga siswa dapat memahami kondisi yang mereka dan teman-teman mereka alami.
Pilihannya bisa meliputi berbagai kegiatan, seperti program konseling dan pelatihan keterampilan hidup. Melalui kegiatan ini, siswa dapat belajar cara mengelola stres dan emosi mereka dengan lebih baik.
Lebih penting lagi, lingkungan sekolah harus diciptakan agar siswa merasa aman dan didukung. Dukungan dari teman sebaya dan guru dapat membuat perbedaan yang besar dalam kehidupan sehari-hari mereka. Jangan sampai pelajar merasa sendirian dalam perjuangan mereka menghadapi masalah mental.
Secara keseluruhan, penanganan masalah kesehatan mental di kalangan pelajar memerlukan kerjasama antara berbagai pihak, termasuk sekolah, orang tua, dan pemerintah. Dengan pendekatan yang lebih holistik, diharapkan masalah ini dapat ditangani dengan baik, sehingga generasi masa depan bisa tumbuh dengan kesehatan mental yang lebih baik.














