Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengumumkan bahwa Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (K-SIGN) di Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, diharapkan dapat memulai produksi pada Maret 2026. Penetapan waktu ini didasarkan pada akhir musim hujan, sehingga proses produksi garam bisa dilakukan secara optimal.
Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP, Koswara, menegaskan bahwa K-SIGN tidak hanya sekadar proyek infrastruktur, tetapi juga merupakan fasilitas industri yang dirancang untuk memproduksi garam. Hal ini menjadi langkah penting dalam meningkatkan produksi dan kualitas garam nasional.
“K-SIGN adalah fasilitas produksi yang kami bangun untuk menghasilkan garam secara lebih efisien,” ujar Koswara kepada wartawan di lokasi proyek. Upaya ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan garam industri yang semakin meningkat di dalam negeri.
Membangun Infrastruktur yang Efisien untuk Produksi Garam
Saat ini, progres pembangunan K-SIGN telah mencapai lebih dari 85% dari segi fisik. Namun, untuk kesiapan fasilitas industri yang menunjang proses produksi, progresnya baru mencapai 62%. Hal ini menunjukkan bahwa masih ada beberapa tahapan yang perlu diselesaikan untuk memastikan fungsi fasilitas secara maksimal.
Koswara menjelaskan bahwa progres industri dinilai dari kondisi kolam yang siap digunakan untuk produksi. Kolam tersebut harus memiliki dasar yang kuat dan tidak lagi menyerap air, sehingga dapat meningkatkan konsentrasi garam ketika dialiri air laut.
“Proses pembangunan tidak hanya melibatkan pembuatan kolam, tetapi juga memastikan bahwa kondisi lingkungan sudah siap untuk produksi berkelanjutan,” tambahnya. Pendekatan tersebut diharapkan mendukung produksi garam yang berkualitas tinggi dan efisien.
Rencana Produksi yang Realistis dan Berkelanjutan
Target produksi yang dijadwalkan pada Maret 2026 sudah sesuai rencana. Namun, Koswara menunjukkan bahwa walaupun fasilitas dapat selesai lebih cepat, proses produksi baru dapat dimulai setelah musim hujan berakhir. “Jadi, meski fasilitas siap pada bulan Januari, kami tidak bisa memproduksi garam karena masih ada hujan,” ujarnya.
Proses produksi diawali dengan pengairan kolam dengan air laut, dan waktu yang dibutuhkan untuk membentuk kristal garam diperkirakan sekitar dua bulan. “Setelah siklus pertama selesai, kita dapat memanen secara berkelanjutan tanpa harus menunggu waktu yang sama,” jelasnya.
Koswara juga menekankan pentingnya sistem produksi yang dirancang untuk berlangsung tanpa henti selama musim panas, memastikan pasokan garam tetap stabil. “Produksi akan berlanjut hingga akhir musim panas,” katanya.
Target Kualitas Garam yang Tinggi untuk Industri
KKP menargetkan agar garam yang dihasilkan K-SIGN memenuhi standar garam industri, dengan tingkat kemurnian yang tinggi. Koswara menyebutkan bahwa target kemurnian untuk garam industri adalah sekitar 97%. “Kami ingin memastikan bahwa garam yang dihasilkan benar-benar berkualitas untuk memenuhi kebutuhan industri,” tegasnya.
Strategi ini tidak hanya akan meningkatkan kualitas garam, tetapi juga memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal di Rote Ndao. Dengan produksi yang terencana, masyarakat setempat diharapkan dapat merasakan manfaat dari peningkatan kapasitas produksi ini.
Upaya untuk mengembangkan K-SIGN menjadi sentra industri garam yang unggul mencerminkan komitmen pemerintah untuk meningkatkan ketahanan pangan dan industri dalam negeri. Dengan langkah ini, diharapkan Indonesia dapat mengurangi ketergantungan terhadap garam impor dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.
Faktor Lingkungan yang Perlu Diperhatikan dalam Produksi Garam
Penting bagi semua pihak yang terlibat untuk memperhatikan aspek lingkungan dalam proses produksi garam di K-SIGN. Proses pengolahan garam yang ramah lingkungan dapat mencegah dampak negatif terhadap ekosistem setempat dan menjaga kelestarian sumber daya alam.
Agar produksi garam berlangsung berkelanjutan, diperlukan strategi pengelolaan sumber daya air yang efisien serta teknologi yang dapat meminimalkan limbah. “Kita harus seimbang antara produksi dan perlindungan lingkungan agar keberlanjutan usaha dapat terjaga,” kata Koswara.
Dengan demikian, produksi garam tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga melindungi aspek ekologis yang sangat penting bagi daerah tersebut. Komitmen untuk menjaga lingkungan juga sejalan dengan aspirasi global untuk keberlanjutan.














