Sejarah mencatat banyak perusahaan besar yang mengalami kebangkrutan, tetapi tidak ada yang lebih mencolok daripada kebangkrutan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Perusahaan dagang ini merupakan salah satu yang terbesar dalam sejarah, menguasai perdagangan global dan beroperasi di wilayah yang sekarang dikenal sebagai Indonesia selama hampir dua abad.
Namun, di balik kejayaan dan kekuasaan tersebut, terdapat penyebab yang mengakibatkan keruntuhannya. Korupsi dalam tubuh internal VOC menjadi faktor utama yang membawanya ke jurang kebangkrutan, meninggalkan pelajaran berharga bagi generasi masa kini.
Didirikan pada tahun 1602, VOC menjadi alat utama eksploitasi kekayaan Asia, khususnya rempah-rempah dari Nusantara. Dalam waktu singkat, perusahaan ini berkembang menjadi raksasa dengan kekuasaan yang jauh melampaui batasan-batasan korporasi biasa.
Kekuasaan dan Kapasitas VOC Sebagai Perusahaan Dagang Terbesar
VOC tidak hanya berperan sebagai pedagang, tetapi juga sebagai penguasa. Mereka memiliki hak untuk mencetak uang, membangun angkatan bersenjata, serta menandatangani perjanjian dengan kerajaan-kerajaan lokal. Hal ini membuat VOC semakin mendominasi perdagangan, hingga valuenya diperkirakan mencapai US$8,2 triliun jika dihitung dalam nilai modern.
Namun, ada suara skeptis mengenai nilai tersebut. Beberapa sejarawan berpendapat bahwa angka itu mungkin terlalu tinggi, dan bahkan Lodewijk Petram, penulis buku tentang sejarah bursa saham, menyatakan nilai VOC mungkin “hanya” sekitar US$1 miliar. Meski demikian, angka tersebut tetap menunjukkan kekuatan luar biasa suatu perusahaan di abad ke-17.
Seiring berjalannya waktu, dengan kekuasaan yang begitu besar, harusnya vokasi dan profesionalisme semakin dikedepankan. Namun, mulai memasuki awal abad ke-18, tanda-tanda keruntuhan mulai terlihat. Keputusan-keputusan buruk dalam tata kelola keuangan menjadi penyebab utama dari keroposnya kekuatan VOC.
Korupsi yang Menggerogoti Kehidupan Perusahaan Dagang Terkemuka
Dalam banyak hal, tata kelola VOC ditandai dengan perang dan ekspansi wilayah yang mahal. Setelah pertempuran, mereka mendirikan sejumlah kantor perwakilan untuk mengawasi wilayah yang baru dikuasai. Namun, biaya yang dikeluarkan sering kali tidak sebanding dengan pemasukan yang diterima, dan dana operasional menjadi sasaran korupsi yang merajalela.
Sejarawan C.R. Boxer juga mengemukakan bahwa korupsi dalam VOC berlangsung dengan sangat sistematis. Ketika pejabat daerah diminta untuk menyetorkan kas ke pusat, mereka sering kali menggelembungkan laporan untuk meraih keuntungan pribadi. Hal ini menciptakan lingkaran setan yang makin memperparah situasi keuangan perusahaan.
Tak hanya pejabat, banyak pegawai VOC juga terlibat dalam praktik tidak etis. Mereka sering lebih memilih berdagang untuk kepentingan pribadi, dengan menggunakan kapal yang seharusnya dipakai untuk komoditas perusahaan. Hal ini semakin memperburuk kondisi keuangan yang sudah seret.
Penyebab Utama Korupsi dan Dampaknya pada VOC
Menurut Ong Hok Ham dalam karyanya, korupsi di dalam VOC meluas dari atas ke bawah. Salah satu penyebabnya adalah gaji pegawai yang sangat rendah, menciptakan tekanan bagi mereka untuk mencari jalan pintas demi memperbaiki keadaan finansial. Sebagian besar pegawai berasal dari kalangan miskin Eropa, yang berharap bisa cepat kaya di tanah jajahan.
Akibat buruk dari praktik ini adalah adanya kesenjangan yang mencolok. Banyak pegawai yang dapat hidup dalam kondisi mewah, sementara kas perusahaan semakin menipis. Persaingan yang semakin ketat dengan perusahaan dagang asing lainnya juga menambah tekanan pada VOC yang terdesak oleh kondisi pasar yang semakin tidak menguntungkan.
VOC berusaha bertahan dengan mengandalkan pinjaman. Namun, di tengah praktik korupsi yang sudah mendarah daging, utang tersebut hanya berfungsi untuk menunda kehancuran yang sudah di depan mata. Proses tersebut akhirnya mencapai puncaknya pada malam tahun baru 31 Desember 1799, ketika kerajaan Belanda resmi membubarkan VOC.
Warisan Korupsi yang Menyisakan Pelajaran Berharga bagi Masa Kini
Dengan dihapuskannya VOC, berakhirlah perjalanan perusahaan yang telah menguasai perdagangan selama hampir dua abad. Sebagai dampak dari kebangkrutan ini, seluruh aset dan utang perusahaan diambil alih oleh negara. Kerajaan Belanda kemudian mendirikan koloni baru yang dikenal sebagai Hindia Belanda.
Namun, ada ironi yang mengemuka. VOC yang dahulunya dikenal dengan nama panjangnya, kini lebih dikenal dengan sebutan Vergaan Onder Corruptie, yang berarti “runtuh karena korupsi”. Warisan ini membawa dampak panjang, yang dinilai sebagai fondasi bagi praktik korupsi sistemik di Nusantara, yang kini dikenal sebagai Indonesia.
Sejarah VOC bukan sekadar catatan kejayaan, tetapi juga menjadi pelajaran berharga. Risiko korupsi dan pentingnya tata kelola yang baik menuntut perhatian lebih dalam dunia bisnis saat ini. Renungan terhadap perjalanan VOC perlu dipahami agar kita tidak mengulangi kesalahan yang sama di masa mendatang.














