Kementerian Perdagangan telah mengumumkan Harga Referensi (HR) untuk komoditas minyak kelapa sawit, atau dikenal sebagai Crude Palm Oil (CPO), yang berfungsi untuk menetapkan Bea Keluar (BK) dan Pungutan Ekspor (PE) untuk periode November 2025. Harga tersebut ditetapkan sebesar USD 963,75 per metrik ton (MT), yang menunjukkan sedikit peningkatan dibandingkan periode sebelumnya.
Pelaksana tugas di Kementerian Perdagangan, Tommy Andana, menjelaskan bahwa kenaikan harga ini tercatat sebesar USD 0,14 atau 0,01 persen dari HR CPO pada bulan Oktober 2025. Peningkatan ini didorong oleh ekspektasi meningkatnya permintaan, khususnya dari Malaysia, dan kebijakan penerapan B50, serta kenaikan harga minyak nabati lainnya.
Kenaikan harga CPO pada bulan November 2025 mencerminkan berbagai faktor yang saling berpengaruh antara pasar global dan kebijakan dalam negeri. Selain itu, ada pula dampak positif dari tren harga minyak kedelai yang mengalami kenaikan, menambah optimisme di sektor perkebunan kelapa sawit.
Peraturan pemerintah yang mengatur cukai atas minyak kelapa sawit mengacu pada Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 38 Tahun 2024 dan PMK Nomor 68 Tahun 2025, yang menetapkan BK CPO sebesar USD 124 per MT. Besaran tersebut disusun berdasarkan analisis mendalam terhadap kondisi pasar dan kebutuhan pendapatan negara dari sektor tersebut.
Biaya Pungutan Ekspor (PE) untuk periode yang sama juga ditetapkan sebesar 10 persen dari HR CPO, mencapai angka sekitar USD 96,3748 per MT. Dengan adanya regulasi yang jelas ini, diharapkan sektor ini dapat beroperasi secara transparan dan terprediksi.
Faktor Pendorong Kenaikan Harga CPO di Pasar Internasional
Harga CPO dipengaruhi oleh banyak faktor, di antaranya adalah kondisi iklim dan permintaan dari berbagai negara. Dalam beberapa bulan terakhir, perubahan cuaca yang mempengaruhi hasil produksi menjadi perhatian utama, terutama menjelang pemanenan.
Ekspansi program B50 di Malaysia sebagai pengganti fosil juga menjadi faktor penting yang mendorong permintaan CPO. Dengan meningkatnya kebijakan energi terbarukan, pasar CPO berpotensi mengalami lonjakan permintaan di masa depan.
Peningkatan harga minyak kedelai yang mengarah pada substitusi antara CPO dan minyak kedelai juga memengaruhi dinamika di pasar. Ketika harga kedelai naik, beberapa industri beralih ke CPO, memicu permintaan yang lebih besar.
Selain itu, pasokan CPO di pasar global juga dipengaruhi oleh situasi politik dan ekonomi di negara penghasil lainnya. Ketidakstabilan di negara-negara tersebut sering kali berdampak langsung pada harga dan ketersediaan komoditas di pasar internasional.
Persaingan antara pasar yang berbeda, seperti harga internasional yang lebih tinggi di bursa-bursa utama, juga menjadi pendorong bagi pergerakan harga global. Dalam hal ini, Indonesia harus bersaing dengan negara lain untuk tetap menjadi pemain utama dalam industri ini.
Strategi Pengelolaan Sumber Daya untuk Sektor Kelapa Sawit
Pemerintah kini lebih fokus pada pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan. Di tengah tantangan yang ada, penting untuk membuat kebijakan yang dapat mendukung pengembangan sektor kelapa sawit secara bertanggung jawab.
Implementasi program sertifikasi seperti ISCC dan RSPO diharapkan dapat mendorong praktik yang lebih baik dalam industri. Dengan meningkatkan standar, diharapkan produk yang dihasilkan dapat diterima lebih luas di pasar internasional.
Inovasi teknologi dalam perkebunan juga menjadi kunci untuk efisiensi dan produktivitas. Penggunaan teknologi modern dapat meningkatkan hasil produksi sekaligus mengurangi dampak lingkungan.
Membuka peluang pasar baru juga bagian dari strategi pengelolaan yang sedang dijajaki. Dengan menjajaki hubungan dagang baru, Indonesia dapat memperluas basis konsumen dan mengurangi ketergantungan pada pasar tradisional.
Justru upaya untuk memperbaiki citra industri kelapa sawit harus dilakukan secara sinergis. Masyarakat dan pemangku kepentingan harus bersinergi untuk mencapai tujuan keberlanjutan baik secara lingkungan maupun sosial.
Proyeksi Ke depan untuk Komoditas CPO
Melihat perkembangan terkini, proyeksi harga CPO ke depan tampaknya akan terus dipengaruhi oleh banyak faktor. Permintaan yang terus meningkat dari negara-negara pengimpor seperti India dan China dapat mendorong kenaikan harga.
Namun, petani dan pelaku industri di dalam negeri juga harus siap menghadapi tantangan baru. Situasi kebijakan global dan lokal yang dinamis dapat berpengaruh pada stabilitas pendapatan mereka.
Inisiatif untuk meningkatkan daya saing melalui peningkatan kualitas produk juga menjadi hal penting. Memastikan bahwa produk memenuhi standar internasional akan membuka lebih banyak kesempatan di pasar global.
Keterlibatan aktif dalam forum internasional juga akan membantu Indonesia untuk menempatkan posisi strategis dalam perdagangan CPO. Dengan demikian, Indonesia bisa mendapat keuntungan lebih dari perkembangan pasar global.
Di akhir, tantangan dan peluang akan terus ada, namun dengan pendekatan yang tepat, sektor kelapa sawit Indonesia bisa menghadapi masa depan dengan lebih baik.














