Pembicaraan mengenai seberapa sering pria sebaiknya melakukan ejakulasi sangat penting dalam konteks kesehatan reproduksi. Pemahaman ini tidak hanya berkaitan dengan produksi sperma, tetapi juga hubungannya dengan risiko kanker prostat.
Riset menunjukkan bahwa ejakulasi memainkan peran yang signifikan dalam kesehatan pria. Beberapa ahli percaya bahwa tidak adanya ejakulasi dalam waktu tertentu dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan, termasuk kanker prostat.
Menurut Dr. Christian Christoper Sunnu, seorang dokter spesialis andrologi, sperma terus diproduksi setiap hari oleh tubuh pria. Setiap sperma memiliki siklus hidup terbatas di dalam sistem reproduksi, yang perlu diperhatikan agar kualitas sperma tetap optimal.
Peran Penting Ejakulasi dalam Kesehatan Pria yang Tidak Boleh Diabaikan
Kualitas sperma dapat menurun jika terlalu lama tidak dikeluarkan. Hal ini dapat berkontribusi pada risiko kesehatan, termasuk kemungkinan kanker prostat. Ejakulasi yang teratur dianggap sebagai langkah pencegahan yang efisien.
Dr. Sunnu menjelaskan bahwa rata-rata pria memproduksi sekitar 8 juta sperma setiap harinya. Sperma ini disimpan di epididimis, yang merupakan bagian dari sistem reproduksi pria, di mana ia dapat disimpan maksimal sekitar dua minggu.
Apabila sperma tidak dikeluarkan setelah periode tersebut, bisa terjadi penumpukan yang berbahaya. Proses ini dapat menurunkan kualitas sperma dan berpotensi memicu masalah kesehatan di kemudian hari.
Risiko Kesehatan jika Ejakulasi Terlalu Jarang
Sperma yang terlalu lama berada dalam sistem reproduksi berisiko mengalami proses kedaluwarsa. Dalam kondisi tertentu, sperma yang berada dalam sistem dapat membentuk radikal bebas, yang berkontribusi terhadap peradangan.
Proses ini bisa berujung pada pembesaran prostat, yang merupakan masalah kesehatan serius. Dr. Sunnu menyatakan bahwa ejakulasi yang tidak teratur dapat mengubah mekanisme tubuh dalam mengeluarkan sperma seiring bertambahnya usia.
Frekuensi ejakulasi sangat beragam antara pria muda dan pria yang lebih tua. Pria muda cenderung memiliki mekanisme alami yang lebih baik dalam melakukan ejakulasi, sedangkan pria yang lebih tua mungkin mengalami penurunan fungsi ini.
Frekuensi Ejakulasi yang Ideal untuk Kesehatan Prostat
Tidak ada patokan medis baku mengenai frekuensi ejakulasi optimal. Namun, penelitian menunjukkan bahwa pria yang melakukan ejakulasi secara rutin sekitar 21 kali dalam sebulan memiliki risiko 20 persen lebih rendah terhadap kanker prostat dibandingkan mereka yang melakukannya lebih jarang.
Dr. Sunnu menyarankan bahwa ejakulasi sebaiknya dilakukan setiap satu hingga dua minggu sekali untuk membantu menjaga kesehatan sperma dan prostat. Hal ini penting dalam mencegah penumpukan dan penurunan kualitas sperma.
Penting untuk diingat bahwa ejakulasi yang terlalu sering—setiap hari—dapat berdampak negatif terhadap kesehatan sperma. Keseimbangan dalam frekuensi ejakulasi adalah kunci untuk kesehatan reproduksi yang optimal.
Faktor Usia dan Aktivitas Fisik yang Mempengaruhi Kesehatan Reproduksi
Usia berperan penting dalam risiko gangguan kesehatan, terutama bagi pria berusia 40 hingga 50 tahun. Mereka yang memiliki gaya hidup sedentari, atau kurang aktif secara fisik, lebih rentan terhadap masalah seperti pembesaran prostat.
Dr. Sunnu mencatat bahwa gaya hidup yang tidak aktif membuat massa otot menurun dan lemak tubuh meningkat. Ketika otot tidak digunakan secara optimal, maka hasil ejakulasi juga dapat terpengaruh.
Pria yang bekerja di kantor dan menghabiskan banyak waktu duduk cenderung mengalami pembesaran prostat. Namun, mereka yang rutin berolahraga dan tetap aktif cenderung memiliki risiko yang lebih rendah untuk mengalami masalah ini.














