Sebagai lembaga klasifikasi nasional, PT Biro Klasifikasi Indonesia (Persero) memiliki peran yang sangat penting dalam memastikan keselamatan serta kelaikan setiap kapal yang beroperasi di wilayah perairan Indonesia. Keberadaan lembaga ini menjadi krusial dalam menjaga standar keselamatan pesisir dan laut, sekaligus mendukung perkembangan industri maritim di Tanah Air.
BKI telah mengumumkan penerapan Petunjuk Penilaian Risiko (PR) (Bag.8, Vol.A), sebuah pedoman inovatif yang ditujukan untuk sistem klasifikasi kapal. Penekanan pada pendekatan berbasis risiko ini dirancang khusus untuk kapal-kapal yang telah ada, baik di perairan sungai maupun danau, untuk meningkatkan efektivitas dalam evaluasi kelaikan kapal.
Direktur Operasi Bisnis Klasifikasi BKI, Arief Budi Permana, menjelaskan bahwa pendekatan ini dirancang untuk mengidentifikasi potensi bahaya yang mungkin terjadi selama masa operasional kapal. Dengan begitu, tindakan pencegahan bisa dilakukan lebih cepat dan tepat, mengurangi risiko kecelakaan yang tidak diinginkan.
Pengenalan Sistem Penilaian Risiko pada Kapal dan Bangunan Apung
BKI mengembangkan sistem penilaian risiko untuk memudahkan pemilik kapal dalam melakukan evaluasi kelaikan. Penggunaan sistem ini bertujuan agar pemilik dan lembaga klasifikasi dapat berkolaborasi dalam mendeteksi potensi bahaya secara lebih efektif.
Dengan pendekatan berbasis risiko, BKI berkomitmen untuk membantu pemilik kapal dalam pengambilan keputusan yang berkaitan dengan keselamatan. Hal ini penting agar semua keputusan diambil dengan data dan informasi yang valid, mengurangi ketidakpastian dalam operasional kapal.
Sistem penilaian ini memungkinkan dokumen dan catatan untuk terdigitalisasi, sehingga mempermudah akses terhadap informasi yang dibutuhkan. Penggunaan teknologi dalam penilaian ini diharapkan dapat meningkatkan kecepatan dan efisiensi proses klasifikasi kapal.
Tantangan dan Kesempatan dalam Implementasi Pendekatan Berbasis Risiko
Meskipun implementasi pendekatan berbasis risiko membawa banyak manfaat, ada sejumlah tantangan yang harus dihadapi. Tantangan ini termasuk memahami risiko spesifik yang dihadapi oleh kapal-kapal di perairan domestik yang beragam.
Pemilik kapal juga perlu diberikan pelatihan dan pemahaman yang memadai agar dapat menggunakan sistem ini secara efektif. Tanpa pengetahuan yang cukup, potensi risiko yang ada mungkin tidak teridentifikasi dengan baik.
Di sisi lain, penerapan sistem ini juga membuka kesempatan baru bagi industri maritim untuk meningkatkan standarisasi dan kualitas pelayanan. Dengan adanya sistem penilaian risiko ini, diharapkan akan ada peningkatan dalam keselamatan pelayaran nasional.
Transformasi Digital BKI dalam Layanan Maritim yang Kuat dan Efisien
Dalam rangka mendukung transformasi digital, BKI telah memperkenalkan aplikasi Dewaruci Risk-Based Assessment (Dewaruci RBA). Aplikasi ini dirancang untuk membantu pemilik kapal dalam proses penilaian risiko yang lebih transparan dan akurat.
Dewaruci RBA tidak hanya menyediakan platform untuk evaluasi risiko, tetapi juga memastikan semua data tercatat secara digital. Hal ini memungkinkan kolaborasi lebih baik antara pemilik kapal dan lembaga klasifikasi, mempercepat proses pengambilan keputusan.
Sistem digital ini selaras dengan upaya nasional untuk menciptakan pelayanan maritim yang efisien dan berkelanjutan. Dengan memanfaatkan teknologi, BKI berusaha untuk menciptakan solusi inovatif dalam sektor transportasi laut.
Melalui inisiatif ini, BKI berkomitmen untuk meningkatkan daya saing industri pelayaran Indonesia di tingkat global. Upaya ini sejalan dengan kebijakan nasional yang bertujuan untuk meningkatkan keselamatan dan keamanan pelayaran.














