Kehidupan setelah pensiun sering kali menjadi misteri bagi masyarakat. Banyak yang penasaran mengenai langkah-langkah yang diambil mantan pejabat setelah melepas posisi mereka di pemerintahan.
Salah satu kisah menarik datang dari Saifuddin Zuhri, mantan Menteri Agama Republik Indonesia ke-10. Setelah mengakhiri masa jabatannya, dia memilih jalur kehidupan yang sederhana, beralih menjadi pedagang beras di Pasar Glodok, Jakarta, demi menafkahi keluarga.
Saifuddin Zuhri ditunjuk sebagai Menteri Agama pada 2 Maret 1962 dan mengakhiri masa jabatannya pada tahun 1967. Setelah periode menteri, dia aktif dalam politik sebagai anggota DPR-GR, mewakili Fraksi Nahdlatul Ulama (NU), dan kemudian terpilih lagi dalam Pemilu 1971.
Kehidupan Sederhana Saifuddin Zuhri Pasca Pensiun
Meski memiliki latar belakang yang kuat di dunia politik, Saifuddin menjalani kehidupan yang jauh dari kesan glamor. Pada tahun 1980-an, dia mulai berjualan beras di Pasar Glodok dan melakukannya dengan tekun setiap hari.
Pagi-pagi, setelah menunaikan salat Dhuha, dia akan berangkat sendiri menggunakan mobil untuk mengangkut dagangannya. Aktivitas ini menjadi rutinitas yang dilakukannya hingga tahun-tahun berikutnya.
Yang menarik, sebagian besar keluarganya tidak mengetahui profesi dagangnya. Mereka hanya menyadari bahwa Saifuddin selalu pulang membawa uang, tanpa memahami bagaimana cara dia mendapatkannya.
Perjalanan Bisnis yang Tak Terduga
Akan tetapi, rahasia ini terbongkar ketika salah satu putranya secara tidak sengaja melihatnya sedang berdagang di Pasar Glodok. Momen tersebut menjadi titik balik yang membuka pemahaman bagi keluarganya tentang kehidupan sederhana yang dijalani sang ayah.
Berdagang bukanlah hal asing bagi Saifuddin. Dalam autobiografinya, dia menulis bahwa sejak tahun 1942, dia telah melakukan berbagai usaha dagang demi mencukupi kebutuhan hidup keluarganya. Dia telah menjual berbagai barang, mulai dari pakaian bekas hingga peralatan rumah tangga.
Pengalaman tersebut membentuk karakternya, menjadikannya sosok yang merendah meski memiliki banyak pengalaman dalam berpolitik dan pemerintahan. Saifuddin percaya bahwa jabatan tidak menjadikan seseorang lebih istimewa, melainkan sebuah amanah yang harus dijalani dengan tanggung jawab.
Nilai-Nilai Hidup yang Dipegang Teguh
Sikap merendah ini sudah tercermin saat Saifuddin menjabat sebagai menteri. Dia sangat menolak fasilitas rumah dinas, dengan alasan menjaga prinsip agar tidak terasa serakah. Meskipun berhak, dia memilih untuk tetap tinggal di rumah pribadi miliknya.
Ketika banyak orang menekankan pentingnya fasilitas, Saifuddin mengejutkan banyak pihak dengan penolakannya yang tegas. Hal ini menunjukkan komitmennya untuk menjalani hidup yang bersih dan mandiri, jauh dari kesan mencari kemewahan.
Lebih lanjut, dia mengakui bahwa jika seorang Menteri Agama merasa serakah, lantas bagaimana dengan yang lainnya? Penegasan ini menunjukkan integritasnya, mengingat banyak pejabat yang terdorong oleh ambisi diri sendiri.
Warisan Sosial dan Kebijaksanaan
Saifuddin tidak hanya mengutamakan prinsip hidup di saat menjabat, tetapi juga setelah masa pensiun. Dia menghabiskan banyak waktu untuk menyicil rumah sendiri, yang akhirnya dia hadiahkan kepada komunitas Nahdlatul Ulama setelah lunas. Ini adalah bukti komitmennya untuk berkontribusi bagi masyarakat.
Dia juga menjadi teladan bagi banyak orang dengan sikapnya yang sederhana dan penuh pengabdian. Warisannya tidak hanya dalam bentuk pengabdian di dunia politik tetapi juga dalam tindakan nyata yang memberi manfaat bagi orang lain.
Pada 25 Februari 1986, Saifuddin Zuhri wafat setelah berjuang melawan sakit. Kepergiannya meninggalkan jejak yang dalam di hati banyak orang, serta pengaruh yang akan selalu dikenang melalui sosok putra bungsunya, Lukman Hakim Saifuddin, yang kini menjabat sebagai Menteri Agama.













