Membantu sesama manusia merupakan tindakan mulia yang melampaui batasan suku, agama, dan ras. Prinsip ini ditemukan dalam kisah hidup Tjong A Fie, seorang pengusaha keturunan China yang dikenal karena dedikasinya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kekayaan yang dia kumpulkan tidak pernah dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi, tetapi digunakan untuk pembangunan dan membantu orang-orang di sekelilingnya.
Tjong A Fie tiba di Medan pada tahun 1878 dengan harapan dapat memperbaiki kehidupan. Sebagai perantau yang merantau, dia memulai kariernya sederhana dengan bekerja sebagai penjaga toko kelontong, di mana dia segera mendapatkan reputasi sebagai individu yang jujur dan baik hati.
Karakter yang kuat dan integritasnya membuatnya diterima oleh beragam lapisan masyarakat, termasuk orang Belanda, Arab, hingga pribumi yang menempati kalangan atas. Dengan cara ini, Tjong A Fie mulai menjalin hubungan yang berharga yang kelak akan memengaruhi jalannya kehidupan dan bisnisnya.
Kisah Awal Perjalanan Tjong A Fie di Medan
Persahabatan Tjong A Fie dengan Sultan Deli menjadi titik tolak kesuksesannya. Mengandalkan hubungan sosial yang baik, ia berhasil memperoleh konsesi perkebunan tembakau. Dari sinilah dia mulai mengumpulkan kekayaan yang memungkinkannya untuk melakukan investasi di bidang lain.
Pada awalnya, keuntungan dari perkebunan tembakau tidak dinikmati secara egois. Ia memutar kembali dana yang didapat untuk memperluas usaha, termasuk mengembangkan perkebunan karet, yang saat itu dianggap kurang potensial tetapi memiliki masa depan yang cerah menurut pandangannya.
Kecerdasannya dalam memilih investasi terbukti berhasil ketika harga tembakau jatuh dan harga karet melonjak tajam. Keputusan yang tepat ini meningkatkan kekayaannya substansial, namun tetap dengan semangat untuk berbagi dan menginvestasikan kembali hasilnya.
Dari Pengusaha ke Filantropis Terkenal
Dalam buku yang ditulis oleh seorang sejarawan terkenal, perjalanan Tjong A Fie sebagai pengusaha sangat mengesankan. Dia tidak hanya membangun usaha perkebunan, tetapi juga mendirikan pabrik gula dan investasi di sektor-sektor lain. Dia menciptakan jaringan bisnis yang luas dan menjadi salah satu tokoh terkaya di Medan.
Menariknya, meskipun kaya, Tjong A Fie tetap memiliki kesadaran sosial yang tinggi. Ia menyadari bahwa banyak dari kekayaannya berasal dari praktik-praktik ekonomi yang tidak selalu etis. Kesadarannya ini menuntun dia untuk aktif dalam kegiatan amal dan sosial demi kepentingan masyarakat luas.
Tjong A Fie mengalokasikan sebagian besar kekayaannya untuk pembangunan sarana-sarana umum. Ia dikenal sebagai dermawan yang peduli dengan kebutuhan masyarakat, membangun masjid, gereja, klenteng, dan berbagai fasilitas pendidikan serta kesehatan.
Komitmen Tjong A Fie terhadap Kesejahteraan Sosial
Sikap dermawan Tjong A Fie tercermin jelas dalam banyak proyek yang ia inisiasi. Ia menyumbang sepertiga biaya pembangunan Masjid Raya Medan sebagai bentuk penghormatan kepada komunitas Muslim di sekitarnya. Ini menunjukkan komitmennya untuk mengintegrasikan diri dan berkontribusi pada keberadaan umat di Medan.
Selain masjid, Tjong A Fie juga mendirikan infrastruktur penting lainnya seperti jalan, jembatan, hingga sekolah dan rumah sakit. Dia memahami bahwa keberhasilan sebuah komunitas tidak hanya bergantung pada kekayaan material, tetapi juga pada kualitas hidup yang lebih baik untuk setiap individu.
Lebih dari sekedar proyek ambisius, kedermawanan Tjong A Fie tampak dalam tindakan kecil. Dia sering berkeliling untuk membagikan uang dan beras kepada mereka yang kurang mampu. Setiap individu yang membutuhkan bantuan hampir selalu dia bantu, tanpa memandang latar belakang pemohon.
Warisan Abadi Tjong A Fie di Medan
Ketika Tjong A Fie wafat pada 8 Februari 1921, tidak hanya keluarganya yang merasakan kehilangan, tetapi juga seluruh masyarakat Medan. Ribuan orang dari berbagai kalangan datang melayat ke rumahnya, menunjukkan betapa besar pengaruh yang dimilikinya. Kehilangan seorang dermawan sejati ini meninggalkan kesan mendalam bagi banyak orang.
Jejak kehadirannya masih bisa dirasakan hingga kini di Medan. Banyak bangunan yang didirikannya masih bertahan dan menjadi bagian dari sejarah kota. Nama Tjong A Fie pun diabadikan sebagai nama jalan, menjadi pengingat akan kontribusinya yang luar biasa bagi masyarakat.
Kisah hidup Tjong A Fie adalah contoh inspiratif tentang bagaimana kekayaan dan kesuksesan bisa digunakan untuk kebaikan bersama. Komitmennya pada kesejahteraan sosial menjadi model bagi generasi mendatang untuk terus berbagi dan memberikan kembali kepada komunitas. Ini adalah warisan yang tak ternilai dan relevansi yang tak akan pudar.












