Hanya beberapa individu yang mendapatkan kesempatan untuk menerima penghargaan langsung dari seorang presiden, namun Herlina, seorang wanita asal Jakarta, menolak tawaran tersebut. Ketika Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, menawarkan 500 gram emas senilai Rp1,2 miliar sebagai penghargaan atas keberaniannya dalam perang di Irian Barat, ia memilih untuk mengembalikannya, menganggap hadiah tersebut bukanlah simbol tujuan yang tepat.
Bagi Herlina, pemberian emas tersebut merupakan sesuatu yang berlebihan dan seharusnya menggambarkan perjuangan kolektif daripada kekayaan individu. Hal ini mencerminkan prinsip dan nilai hidupnya yang tinggi, di mana keberanian dan pengabdian lebih penting dibandingkan bentuk penghargaan yang bersifat materi.
Pemberian emas oleh presiden itu menjadi pengakuan atas kontribusi Herlina sebagai pahlawan perempuan yang memberanikan diri dalam perang. Di tahun 1962, di tengah operasi pembebasan Papua dari Belanda, Herlina rela menjadi relawan untuk membela tanah airnya, meski harus menghadapi berbagai tantangan.
Dengan berbagai penolakan, Herlina yang sebelumnya merupakan jurnalis, bertekad untuk mengabdikan diri sepenuhnya kepada negara dan rakyat. “Indonesia sekarang bukan Indonesia zaman kolonial di mana wanita tidak memiliki kesempatan yang sama dengan kaum pria,” tegasnya dalam memoar berjudul Pending Emas: Pengalaman-pengalaman Selama Mendarat di Irian Barat (1964).
Keputusan tersebut mengantarkan Herlina ke Makassar, tempat di mana dia mendapatkan persetujuan untuk berjuang bersama pasukan. Meskipun banyak perwira ragu, satu-satunya yang mendukungnya adalah Panglima Mandala, Mayjen Soeharto, yang kelak menjadi presiden kedua Indonesia.
Herlina diterima dengan baik oleh Panglima Mandala, yang lantas memberikan izin untuk menyusup ke daratan Irian Barat. Dalam misi tersebut, Herlina resmi bergabung sebagai relawan pada tahun 1962 dan bertugas memimpin pasukan kecil serta membantu masyarakat Papua.
Pengalaman yang dihadapi Herlina di medan perang, termasuk menghadapi peluru dan kondisi sulit, dituliskan dalam berbagai catatan. Dalam majalah Dharmasena (1991, Vol.16), diceritakan betapa seringnya ia merasa terancam nyawanya.
Keberuntungan berpihak padanya karena ia berhasil selamat hingga perang berakhir pada tahun 1963. Pada usia 20 tahun, Herlina mencatat sejarah sebagai satu-satunya perempuan yang terlibat dalam pertempuran tersebut.
Perjuangan Heroik Cikal Bakal Perubahan Sosial
Keberanian Herlina memukau Soekarno, yang kemudian memberikan penghargaan berupa bintang kehormatan Dharma Bakti, 500 gram emas, dan uang tunai sebesar Rp10 juta. Penghargaan tersebut resmi tercantum dalam Keputusan Presiden No.10/PLM, BS Tahun 1963.
“Hatiku bangga mengenang perjuangan teman-temanku. Tanpa kuasa menahan air mata, aku tak bisa mencegahnya menetes,” ungkap Herlina ketika menerima penghargaan emas itu, seperti yang dikutip dari memoarnya.
Mayoritas orang mungkin menganggap Herlina sangat beruntung menerima “durian runtuh” dari presiden. Namun, kepulangannya dengan hadiah itu tidak berakhir dengan kebahagiaan, karena ia memutuskan untuk mengembalikannya.
Baginya, penerimaan hadiah emas itu merupakan tindakan yang tidak sesuai. Menurut Herlina, simbol perjuangan seharusnya tidak terpatri pada kepemilikan barang berharga, tetapi lebih kepada perjuangan bersama dan kontribusi bagi masyarakat.
Walau tidak menjadikan dirinya kaya dari hadiah tersebut, Herlina membuktikan diri mampu meraih sukses di bidang bisnis. Selama era Orde Baru, ia dikenal sebagai salah satu pengusaha perempuan terkemuka yang memiliki banyak bioskop dan klub sepakbola.
Warisan Perjuangan dan Sikap Inspiratif dari Herlina
Herlina meninggal dunia pada 17 Januari 2017, namun warisan dan inspirasi perjuangannya akan tetap dikenang. Dalam perjalanan hidupnya, ia menunjukkan bahwa keinginan untuk berkontribusi pada negara tidak pernah dipandang remeh, meski harus menembus batas gender yang ada pada zamannya.
Sikap Herlina yang menolak kemewahan dan memilih berjuang untuk orang lain menjadi pelajaran berharga bagi generasi muda. Ia mengajarkan bahwa keberanian tidak hanya ditunjukkan dalam pertempuran, tetapi juga dalam memilih tindakan yang benar.
Pendekatan Herlina terhadap kehidupan, yang berlandaskan pada keinginan untuk berbuat lebih bagi sesama, menginspirasi banyak orang untuk tidak hanya mengejar keuntungan materi. Ia menjadi teladan bahwa nilai-nilai kemanusiaan harus selalu diutamakan.
Sebagai pahlawan perempuan Indonesia, Herlina telah menunjukkan bahwa perempuan memiliki peran yang sangat penting dalam sejarah dan pembangunan bangsa. Dengan demikian, kisah hidupnya bukan hanya sebuah narasi perjuangan di medan perang, tetapi juga tentang komitmen terhadap nilai-nilai kebaikan.
Mewarisi Semangat Kebangkitan Perempuan dalam Sejarah
Perjuangan Herlina menjadi bagian dari sejarah yang menunjukkan bagaimana perempuan bisa berkontribusi dalam berbagai aspek kehidupan. Ini juga mencerminkan bahwa dalam setiap perjuangan, ada nilai-nilai yang perlu dipertahankan untuk generasi mendatang.
Seharusnya, setiap wanita terinspirasi oleh karakteristik yang dimiliki oleh Herlina: keberanian, pengabdian, dan solidaritas. Tindakan dan pengorbanan yang diperjuangkannya menunjukkan bahwa wanita juga dapat berdiri sejajar dengan lelaki baik di medan perang maupun dalam kehidupan sosial.
Di tengah tantangan yang dihadapi, Herlina membuktikan bahwa tak ada yang tidak mungkin selama ada niat yang tulus. Sangat penting bagi generasi sekarang untuk menjadikan kisahnya sebagai pendorong untuk terus berperan aktif dalam perubahan sosial.
Dengan mewarisi semangat dan nilai-nilai perjuangan yang dianut Herlina, diharapkan perempuan di Indonesia dapat terus melanjutkan langkahnya untuk menembus batas-batas yang ada saat ini. Setiap individu harus merasa termotivasi untuk meneruskan cita-cita luhur demi kemajuan bangsa.













