Presiden China, Xi Jinping, melakukan langkah berani dengan melakukan pembersihan di kalangan elit militer negaranya. Beberapa petinggi Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) dicopot dari jabatannya karena dituduh melanggar disiplin dan hukum yang berlaku, menciptakan gelombang kejutan di dalam struktur militer.
Di antara mereka yang tersingkir, Jenderal Zhang Youxia, merupakan salah satu orang kepercayaan Xi. Dengan sejumlah jenderal aktif yang kini terbatas, hal ini menimbulkan berbagai spekulasi tentang keberlanjutan kekuasaan Xi dan kerentanan di tubuh militer.
Situasi ini memunculkan dugaan kemungkinan adanya kudeta yang terjadi secara diam-diam dalam lingkungan militer. Namun, jika dilihat dari sejarah Republik Rakyat China, spekulasi ini sepertinya tidak sepenuhnya konsisten dengan pola yang ada sebelumnya.
Apa yang Terjadi di Dalam Struktur Militer China?
Pembersihan di PLA menunjukkan upaya Xi Jinping untuk mengkonsolidasikan kekuasaan di tangan sendiri. Tindakan ini juga dapat dianggap sebagai langkah untuk menghilangkan potensi ancaman dari sesama jenderal yang mungkin memiliki ambisi politik.
Meski terlihat dramatis, pembersihan ini mungkin lebih mencerminkan ketidakpastian dalam aliansi politik di militer, dibandingkan dengan bentuk kudeta militer yang sering terjadi di negara lain. Integritas dan loyalitas di kalangan petinggi militer menjadi sangat penting dalam konteks ini.
Sejarah militer China mencatat jarangnya terjadi kudeta terbuka, yang membuat situasi sekarang sangat menarik untuk dianalisis. Di sini, penting untuk mengenang kembali satu sosok yang sering disebut-sebut dalam konteks kudeta: Lin Biao.
Menggali Sejarah Lin Biao dan Kudeta yang Gagal
Lin Biao adalah sosok yang disebut-sebut pernah memiliki ambisi untuk menggulingkan pemimpin tertinggi negara. Sebagai Menteri Pertahanan, ia berperan dalam menyebarkan pengkultusan terhadap Mao Zedong melalui distribusi “Buku Merah Kecil” yang mempengaruhi jutaan orang.
Dengan kontribusinya dalam memperkuat kekuasaan Mao, Lin diangkat menjadi Wakil Ketua Pertama Partai Komunis China. Posisi ini memberi dia kekuasaan yang besar, bahkan dianggap sebagai calon penerus yang sah setelah Mao.
Selama bertahun-tahun, Lin dan Mao sering kali berkolaborasi dalam berbagai inisiatif revolusi. Namun, hubungan mereka mulai memburuk saat Lin berusaha mengingatkan Mao tentang stabilitas militer yang terganggu karena Revolusi Kebudayaan, sebuah upaya yang ditanggapi dingin oleh Mao.
Akibat dari Ambisi Politik dan Konflik Internal
Kekhawatiran Lin tentang kondisi militer menjadi semakin nyata ketika Mao mencurigai ambisi politiknya. Dalam suasana tegang ini, Mao bahkan menuduh Lin merencanakan kudeta dengan pendekatan yang ekstrem.
Rencana yang dikenal sebagai “Project 571” meliputi berbagai skenario yang mengerikan, mulai dari pembunuhan hingga pengambilalihan kekuasaan. Jika berhasil, Lin berencana memindahkan pusat kekuasaan ke Guangzhou.
Pemerintah China mengklaim berhasil menggagalkan rencana ini, namun Lin yang dihadapkan pada tekanan politik memilih untuk melarikan diri. Keputusannya untuk meninggalkan negara memicu spekulasi dan pengujian lebih lanjut terhadap ambisinya.
Tragisnya Keberangkatan Lin dan Konsekuensi untuk China
Pada 13 September 1971, Lin Biao dan keluarganya melarikan diri menggunakan pesawat menuju Uni Soviet. Sayangnya, pesawat yang mereka tumpangi jatuh di Mongolia, menewaskan seluruh penumpang di dalamnya. Sebuah kejadian yang tak terduga ini menciptakan banyak pertanyaan.
Ada yang percaya bahwa jatuhnya pesawat Lin bukanlah sebuah kecelakaan murni, dan banyak spekulasi beredar seputar kejadian tersebut. Namun, insiden ini berfungsi menjadi pelajaran bagi pemerintah China dalam menjaga stabilitas.
Sejak peristiwa tersebut, pemerintah China berpegang pada prinsip bahwa militer tidak bisa lebih kuat dari partai. Hal ini menjadi prinsip mendasar yang membantu mempertahankan kekuasaan dan mencegah kemungkinan kudeta di masa depan.













