Pemerintah Indonesia saat ini sedang menggalakkan proyek ‘Gentengisasi’ untuk mengembalikan penggunaan genteng tanah liat sebagai material atap rumah. Proyek ini merupakan bagian dari inisiatif Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah), yang dirancang untuk memperindah tampilan dan meningkatkan ketahanan bangunan di seluruh negeri.
Secara historis, genteng tanah liat telah lama digunakan dalam arsitektur Indonesia. Meskipun material ini lebih ramah lingkungan dan sesuai untuk iklim tropis, banyak rumah baru beralih ke atap dari seng atau baja ringan karena pertimbangan biaya dan kemudahan, serta tren desain modern.
Proyek Gentengisasi ini muncul sebagai respons terhadap kekhawatiran mengenai daya tahan dan keindahan material atap baru. Presiden Prabowo Subianto baru-baru ini mengakui bahwa atap berbahan seng tidak hanya kurang estetis tetapi juga berisiko cepat rusak, sehingga mendesak untuk peralihan ke genteng tanah liat.
Dalam acara Rakornas antara Pemerintah Pusat dan Daerah pada tahun 2026, Presiden Prabowo secara tegas menyerukan untuk mengganti semua atap rumah yang terbuat dari materi seng. Ia juga mengajak pemerintah daerah untuk berkomitmen dan berkontribusi aktif dalam suksesnya proyek ini.
Perubahan Arsitektur Tradisional Menuju Modern: Tantangan dan Peluang
Transisi dari genteng tanah liat ke material modern mencerminkan perubahan nilai-nilai dalam desain arsitektur. Masyarakat kini lebih cenderung memilih bahan-bahan yang tampak lebih modern dan mudah dalam pemasangan, namun hal ini sering mengabaikan tradisi dan keberlanjutan.
Mempertahankan penggunaan genteng tanah liat dapat memberikan kontribusi besar terhadap aspek budaya. Material ini bukan hanya sekadar atap, tetapi juga bagian penting dari identitas arsitektur lokal yang telah ada selama berabad-abad.
Salah satu tantangan besar dalam proyek ini adalah mendorong masyarakat untuk kembali menggunakan genteng. Beberapa orang mungkin merasa sulit untuk beradaptasi dengan perubahan ini, terutama dalam mengubah mindset mereka tentang atap rumah yang lebih ‘kekinian’.
Peluang untuk menciptakan pasar baru untuk industri genteng tanah liat juga sangat menjanjikan. Jika proyek ini berhasil, tidak hanya menciptakan lapangan kerja baru tetapi juga mendorong pertumbuhan industri lokal yang berkaitan dengan kerajinan dan bahan bangunan.
Langkah-Langkah Proyek Gentengisasi yang Diluncurkan Pemerintah
Guna mendukung pelaksanaan proyek Gentengisasi, pemerintah telah merumuskan serangkaian langkah strategis. Langkah pertama adalah melakukan edukasi kepada masyarakat tentang manfaat genteng tanah liat dibandingkan dengan material lain.
Selanjutnya, pemerintah juga berencana untuk memberikan insentif bagi masyarakat yang beralih ke genteng tanah liat. Insentif ini bisa berupa potongan harga atau bantuan finansial yang khusus ditujukan untuk mengganti atap rumah.
Pemerintah daerah juga dilibatkan dalam proses ini untuk memastikan keberhasilan proyek. Setiap daerah diharapkan memiliki rencana aksi yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan lokal mereka masing-masing.
Pertemuan rutin akan diadakan untuk mengevaluasi kemajuan proyek dan mendengar suara masyarakat. Keterlibatan masyarakat dalam mengambil keputusan penting akan membantu menciptakan rasa kepemilikan terhadap proyek ini.
Pentingnya Kolaborasi Antara Pemerintah dan Masyarakat dalam Proyek Ini
Keberhasilan proyek Gentengisasi sangat bergantung pada kolaborasi yang efektif antara pemerintah dan masyarakat. Masyarakat harus merasa dilibatkan dalam pengambilan keputusan dan memiliki kesempatan untuk memberikan masukan yang berguna.
Pemerintah perlu mendengarkan aspirasi dan kekhawatiran masyarakat untuk menciptakan kebijakan yang inklusif. Tanpa dukungan dari masyarakat, proyek ini bisa menghadapi banyak rintangan dan risiko kegagalan.
Melalui dialog terbuka, diharapkan pendekatan baru ini dapat memudahkan transisi menuju penggunaan genteng tanah liat. Dengan dialog yang baik, diharapkan ada pemahaman dan penerimaan yang lebih besar dari masyarakat mengenai manfaat penggunaan material ini.
Sebagai penutup, proyek Gentengisasi diharapkan tidak hanya berdampak pada tampilan fisik bangunan, tetapi juga mengejawantahkan penguatan identitas budaya. Pelestarian tradisi arsitektur dengan mengintegrasikan inovasi adalah kunci untuk mencapai keberlanjutan dalam pembangunan di Indonesia.












