Masyarakat India baru-baru ini merayakan Diwali, Festival Cahaya yang berlangsung selama lima hari dan melibatkan berbagai ritual. Perayaan ini melambangkan kemenangan kebaikan atas kejahatan, yang sangat penting dalam tradisi Hindu, Jain, dan Sikh.
Setelah hari-hari perayaan tersebut, kehidupan masyarakat kembali normal. Namun, di desa Gumatapura, Talavadi, Chamarajanagar, muncul tradisi unik yang dilakukan setelah Diwali.
Tradisi ini adalah Gore Habba, atau ‘Festival Kotoran Sapi’, yang telah ada selama berabad-abad, menarik perhatian banyak orang yang ingin menyaksikannya setiap tahun.
Makna dan Cerita di Balik Gore Habba
Setiap tahun, setelah Balipadyami yang merupakan hari keempat Diwali, ribuan orang berkumpul di Gumatapura untuk merayakan festival ini. Tradisi ini dipercaya membawa berkah, persatuan, dan penyucian bagi komunitas desa.
Para penduduk desa memulai perayaan dengan mengunjungi Kuil Beereshwara, tempat mereka berdoa. Mereka juga menumpuk kotoran sapi segar di depan kuil sebagai bagian dari ritual ini, menunjukkan keterikatan spiritual mereka.
Selain itu, anak-anak dari desa berkeliling untuk mengumpulkan susu dan ghee yang digunakan dalam ritual mandi dewa desa, Kareswara. Dengan melakukan ini, mereka turut berpartisipasi dalam menjaga tradisi budaya yang telah berlanjut selama berabad-abad.
Prosesi dan Ritual Menarik dalam Festival Kotoran Sapi
Saat prosesi dimulai, individu yang dikenal sebagai ‘Chadikora’ diarak keliling desa. Ia biasanya mengenakan pakaian yang terbuat dari dedaunan dan rumput, lengkap dengan aksesori yang mencolok untuk menarik perhatian.
Chadikora diarak dengan seekor keledai, menciptakan suasana yang penuh warna sebelum pertarungan kotoran sapi dimulai. Prosesi ini bukan hanya simbolis tetapi juga menambah semarak perayaan dengan kehadiran tokoh unik ini.
Tradisi ini dipandang sebagai cara untuk memenuhi keinginan dewa desa, menciptakan rasa kebersamaan yang kuat di antara penduduk. Keterlibatan komunitas dalam ritual ini mencerminkan identitas budaya mereka yang kaya.
Asal Usul Festival Gore Habba yang Menarik
Menurut cerita yang berkembang di kalangan warga, festival ini memiliki asal usul yang mendalam. Dikenal bahwa seorang suci dari utara tinggal di rumah penduduk lokal bernama Kalegowda, yang kini dikenal sebagai cikal bakal tradisi ini.
Setelah wafatnya suci tersebut, harta bendanya dibuang ke dalam lubang. Kejadian aneh terjadi ketika sebuah gerobak melintasi lubang itu, dan sebuah lingga mulai berdarah, mengundang kejutan di kalangan masyarakat.
Malam setelah kejadian tersebut, suci itu muncul dalam mimpi seorang penduduk desa dan menuntut agar mereka merayakan Gore Habba setiap tahun setelah Diwali. Dengan demikian, tradisi ini terbentuk dan masih bertahan hingga kini.
Keterlibatan dan Keceriaan Selama Perayaan
Selama persiapan festival, warga desa melakukan berbagai ritual yang melengkapi suasana. Mereka memandikan dan menghias keledai sebelum mengaraknya ke kuil, memberikan lambang kebersihan dan kesucian.
Sewaktu para peserta mandi di kolam, suasana menjadi hidup dengan tawa dan sorak-sorai. Kegiatan ini pada dasarnya adalah bagian dari ritual kuno yang dirayakan sebagai wujud rasa syukur kepada dewa dan tradisi.
Ritual ini juga membawa makna mendalam, di mana dua pria berpakaian ‘Chadikora’ dianggap melambangkan individu yang tidak jujur. Perarakan mereka berfungsi sebagai pengingat akan pentingnya menjaga kebenaran dalam masyarakat.
Ketika perang kotoran dimulai, suasana semakin meriah. Pria, wanita, dan anak-anak saling melempar gumpalan kotoran sapi dengan penuh suka cita. Hal ini merupakan bagian dari acara yang melepaskan tawa dan keceriaan di kalangan masyarakat.
Meski terlihat berantakan, Gore Habba melambangkan kesetaraan dan kebersamaan. Konsep “semua orang menjadi kotor, dan semua orang menjadi bersih kembali” menekankan pentingnya persatuan dalam keragaman komunitas.
Festival yang penuh warna dan energi ini tetap menjadi daya tarik bagi banyak orang, mengenalkan mereka pada kekayaan budaya yang dimiliki oleh masyarakat setempat.














